Di halaman meunasah, tungku batu mulai ditata
Kayu kering menyulut api hingga bara kian menyala
Kuah Beulangong duduk patuh di atas batu dan bara
Menanti rempah dari tangan-tangan bersahaja
Bukan hanya daging yang ditanak dalam belanga
Ada aroma ukhuwah yang mengudara di sana
Lelaki tua dan muda saling mengaduk seirama
Mengubur kasta, menyulam cinta pada sesama
Wangi daging, nangka, dan rempah menyapa sukma
Kuah Beulangong adalah saksi tentang meuseraya
Satu kuali besar untuk semua warga tanpa nama
Sebab dalam khanduri, berbagi adalah kunci utama
Di sini cinta berbicara, di dalam kuah yang merah
Menghapus sekat, menyatukan langkah searah
Aroma ukhuwah ini tak ’kan pernah terpisah
Menjaga damai agar Aceh tak pernah pecah

