Di bawah bayang pohon yang rimbun
Garis-garis putih diukir di tanah lempung
Bukan sekadar kotak, tetapi sebuah singgasana,
Tempat tawa bocah pecah menjemput senja
Keringat bercucur di dahi yang legam
Terik matahari Aceh tak membuat nyali padam
Kini tanah itu sudah berselimut beton
Suara tawa “cengklek” perlahan mulai menghilang
Siapa yang tangkas, dialah sang pemenang

