Di sudut pagi yang basah oleh doa
Jatuh satu cahaya dari langit yang sabar
Kau hadir boh usen
Manisnya tak sekadar rasa
Tetapi cerita yang tumbuh dari tanah sederhana
Angin membawa harum yang lirih
Menyentuh kenangan di beranda rumah
Di mana tawa pernah ditanam
Dan rindu dipetik perlahan
Seperti buah yang matang oleh waktu
Boh usen
Engkau bukan hanya hidangan
Kau adalah bahasa sunyi
Yang diajarkan nenek pada senja
Tentang sabar, tentang cukup
Tentang cinta yang tak perlu ramai
Dalam gigitan kecilmu
Ada kampung yang tak pernah pergi
Ada tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih
Ada langit Aceh yang tetap biru
Meski hati sering kelabu
Dan aku…
Menyimpanmu dalam ingatan
Seperti menyimpan pulang
Yang tak pernah benar-benar jauh

