Tanoh Serambi Mekkah yang indah
Di sana kenangan terpatri di jiwa
Baik suka dan duka kita lewati bersama
Membangun Aceh yang pernah porak-poranda
Aceh yang kaya akan adat dan istiadat
Alam dan laut yang indah dan kaya
Meskipun Aceh pernah dalam luka
Namun bersama kita membangun Aceh mulia
Langit kelabu kembali menggantung rendah
Membawa mendung yang sarat dengan gelisah
Di Tanah Serambi hujan bukan lagi sekadar rahmat
Tetapi bisikan cemas yang merambat di sela urat
Aceh memang tanah yang tabah menelan duka
Namun air ini terus memaksa luka kembali terbuka
Bukan tentang lemah menghadapi bencana
Tetapi tentang ingatan hilang begitu nyata
Dalam sunyi di posko-posko dingin
Kami bertanya pada semilir angin
Sampai kapan luka ini akan terus disiram air
Namun iman menjawab, bertahanlah, jangan menyerah
Sebab di balik setiap genangan yang merendam kaki
Kenangan yang hanyut dibawa arus dingin
Dan juga netra yang basah akan air mata
Ada sabar yang lebih luas dari banjir yang telah mendera

